Oleh: Haris Fatwa (Direktur Digital Media Research & Consulting - DiRI)
TERDAPAT potret metaforis tentang katak yang dimasukkan ke dalam rebusan air. Ketika katak dimasukkan langsung ke dalam air yang sudah mendidih, dengan refleks katak akan langsung lompat untuk menyelamatkan dirinya.
Namun, ketika katak dimasukkan ke dalam air biasa kemudian dipanaskan secara perlahan, ia merasa tidak sedang dalam bahaya. Si katak justru berusaha menyesuaikan suhu tubuhnya tanpa menyadari bahwa ia sebenarnya sedang dalam bahaya.
Katak itu akhirnya mati, bukan saja akibat air yang mendidih, tetapi karena ketidakmampuannya untuk memahami situasi dan menyelamatkan dirinya di waktu yang tepat.
Bukannya menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam situasi yang membahayakan, ia malah menyesuaikan dirinya di lingkungan yang tidak menguntungkan baginya.
Nasib serupa kini mengintai Generasi Z dan Alpha. Sebagai wajah demografi bangsa saat ini, mereka melihat teknologi lebih dari sekadar bagian dari kehidupan, tetapi juga medium eksistensi. Jika René Descartes menyandarkan eksistensi diri pada akal (Cogito, ergo sum), maka generasi saat ini menyandarkan eksistensi pada pola interaksi dan afirmasi digital.
Dalam lanskap ini, fenomena curhat dengan kecerdasan buatan tumbuh subur dan semakin normal. Saat merasa cemas, AI menjadi pelarian pertama untuk mengadu dan bercerita. Chatbot AI selalu tersedia, tidak memotong pembicaraan, tidak menggurui, dan hampir selalu memberi jawaban yang menenangkan.
Survei Common Sense Media, menyadur Kompas (28/8/2025), menemukan 72 persen remaja Amerika Serikat menganggap AI sebagai teman digital yang selalu ada setiap saat. Mereka merasa AI tidak menghakimi dan bisa berbicara hal yang sulit dikatakan kepada orang lain kepada AI.
Intensitas curhat ini membuat masyarakat semakin “miskin percakapan”. Layaknya katak yang menyesuaikan diri dengan “air” yang kian menghangat, ikatan emosional dengan orang tua juga tanpa disadari mulai terputus dan relasi sosial di dunia nyata semakin tumpul. Generasi muda kini merasa lebih dimengerti oleh AI ketimbang manusia.
Psikolog klinis Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011) sudah meramalkan realitas ini. Turkle mendalilkan bahwa teknologi menawarkan ilusi keakraban.
Ketika curhat ke AI, ilusi ini tercermin dari relasi satu arah. AI terus memvalidasi, sementara manusia terus mencari pembenaran. AI memberikan sensasi “ditemani”, padahal sebenarnya pengguna sedang terisolasi sendirian. Relasi ini mengebiri kemampuan manusia untuk mengkalkulasi konflik secara rasional, kompromi dengan lingkungan, dan empati di dunia nyata.
Kekhawatiran ini semakin valid ketika AI tidak lagi sekadar merespons lewat teks. Melalui aplikasi seperti Character.ai atau Replika, misalnya, AI dibekali kemampuan panggilan suara (voice call), panggilan video (video call), hingga avatar tiga dimensi yang mampu meniru gestur, intonasi suara dan wajah layaknya manusia. AI tidak hanya mampu merasionalisasi dan mengafirmasi kebutuhan psikologis manusia, tetapi juga mensimulasikan empati dan kasih sayang yang terlihat sangat nyata.
Sewell Setzer, remaja 14 tahun di California (Kompas, 14/02/2026) sampai mengakhiri hidupnya setelah berbulan-bulan mengisolasi diri dan membangun ikatan emosional yang obsesif dengan chatbot AI dari platform Character.ai. Teman intim Setzer itu mengambil persona Daenerys Targaryen dari serial Game of Thrones.
Berbagai cuitan anonim di media sosial menunjukkan tidak sedikit warganet Indonesia yang mengaku lebih memilih bercerita dengan AI saat overthinking atau depresi, akibat absennya orang terdekat dan ketakutan untuk dihakimi. Akhirnya, yang muncul adalah terputusnya manusia dari realitas.
Sejak awal muncul, teknologi digital memang secara sistematis mengeliminasi kehadiran “yang liyan” (Byung-Chul Han, 2018). Padahal berinteraksi dengan manusia secara nyata berarti melatih untuk menghadapi friksi, penolakan, dan perbedaan sudut pandang yang memaksa kita untuk berkompromi.
Perlahan, katak itu mati di panci yang berisi air panas. Kepekaan sosial dan kecerdasan emosional generasi muda mulai mati seirinhg dengan semakin intimnya mereka dengan mesin. Komunikasi interpersonal semakin menurun dan kemampuan mengelola konflik secara sehat dapat melemah. Bagi generasi Alpha, ini bisa berdampak pada peningkatan risiko perilaku agresif di sekolah.
Sulit membayangkan masa depan Indonesia jika kemampuan paling fundamental ini justru hilang dari tangan generasi penerus bangsa. Terlalu sedih untuk membayangkan generasi muda kita semakin rapuh, tidak toleran terhadap kritik, dan menormalisasi isolasi diri.
Sebelum benar-benar mendidih, kita yang diluar panci harus menarik mereka keluar. Kita adalah para orang tua yang membuka ruang dialog dan kesediaan waktu untuk menjadi telinga untuk anak, atau para guru yang menjadi pendengar yang memanusiakan. Literasi digital bukan hanya soal kecakapan mengoptimalisasi AI, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengatur ritme pemanfaatannya.**
