Melamun, Kemewahan Terakhir Manusia Modern
Home/Tulisan / Opini / Melamun, Kemewahan Terakhir Manusia Modern
Ada sesuatu yang berubah pada cara kira mengisi waktu luang. Jajak pendapat dari GoodStats (2025) mencatat 63 persen Gen Z Indonesia lebih memilih menggulir media sosial ketimbang aktivitas lain saat senggang.

Oleh: Haris Fatwa (Direktur Digital Media Research & Consulting - DiRI)

Suatu sore di tahun 1990, seorang perempuan muda duduk di sebuah kereta dari Manchester menuju London. Keretanya terlambat empat jam. Tidak ada buku, tidak ada ponsel, tidak ada yang bisa dilakukan selain menatap jendela.

Di tengah kekosongan aktivitas itu, muncul bayangan sekelompok penyihir, sebuah sekolah bernama Hogwarts, dan monster-monster dunia sihir. Perempuan itu bernama Joanne Rowling. Tujuh tahun kemudian, hasil lamunan di kereta itu terbit perdana dalam bentuk buku serial berjudul Harry Potter, mahakarya yang masih kita nikmati sampai hari ini. Pertanyaannya, seandainya Rowling naik kereta yang sama hari ini, apakah karakter Ron dan Hermione akan pernah lahir?

Bagi kita, empat jam keterlambatan itu, di tahun 2026, kemungkinan besar akan habis untuk mengecek notifikasi, membual di grup media sosial, atau doom scrolling. Bukan karena malas, tetapi karena kita nyaris tidak lagi mengenal rasa kosong atau lamunan.

Ada sesuatu yang berubah pada cara kira mengisi waktu luang. Jajak pendapat dari GoodStats (2025) mencatat 63 persen Gen Z Indonesia lebih memilih menggulir media sosial ketimbang aktivitas lain saat senggang.

Riset lain berjudul Doomscrolling Behavior among Indonesian Adolescents (2025) menunjukkan lebih dari 80 persen remaja di Indonesia melakukan doomscrolling setikanya empat kali seminggu. Kebiasaan itu terbukti berkorelasi dengan meningkatnya distres psikologis.

Bisa dibilang, kita sudah berhenti melamun sejak media sosial semakin agresif. Kekosongan yang hanya sekian detik terasa seperti dead air yang bagi penyiar radio adalah jeda yang harus segera diisi aktivitas. Sebab, tidak boleh ada keheningan yang menggantung. Fitur seperti reels, shorts sukses mengisi celah kekosongan itu.

Konsekuensi dari nyaris punahnya budaya melamun ini terasa di sekitar kita. Yang paling kentara misalnya penghakiman publik di media sosial. Sebelum fakta terungkap, warganet sangat cepat menyimpulkan, memberikan opini, cepat marah, impulsif, lalu tak jarang berbalik arah begitu informasi baru muncul.

Pada Agustus 2025 lalu, potongan video Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut guru sebagai “beban negara” viral dan memicu amarah luas (Kompas, 2025). Padahal, video itu adalah deepfake. Klarifikasi yang muncul berhari-hari kemudian tak punya daya lawan yang sepadan dengan emosi yang kadung terbangun kuat di tengah kebisingan media sosial.

Bukan Kekosongan

Gejala ini bukan melulu soal kurangnya literasi, melainkan soal kurangnya jeda. Tidak ada ruang untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Semakin kecil ruang untuk melamun, semakin sempit pula ruang untuk berpikir dua kali.

Padahal, melamun bukan kekosongan.

Neurosains justru menunjukkan sebaliknya. Marcus Raichle dari Universitas Washington mempopulerkan istilah default mode network (2015), jaringan otak yang justru menyala terang ketika kita berhenti fokus pada dunia luar.

Artikel From ripples to daydreams: the brain activity behind mind wandering (2024) dari Universitas Osaka bahkan menunjukkan bahwa saat melamun, neuron tidak bergerak asal-asalan. Otak membentuk pola aktivitas yang terstruktur seolah sedang menyusun ulang pengalaman yang tersimpan.

Pola aktivitas ini yang juga menjadi bagian penting dari proses kreatif musisi Kunto Aji. Ia menyebut kebiasaan bengong sangat krusial untuk menelurkan ide-ide lagu, baik saat berjalan kaki, bersantai, atau bahkan ketika mandi. Otak dibiarkan mencerna sendiri apa yang sudah diserap.

Saat merilis lagu “Jangan Melamun Saat Hujan” pada 2023, ia menyebutnya dengan lugas “melamun itu mewah” (Republika, 2023). Manusia modern, menurutnya nyaris tak lagi punya kesempatan itu karena secara biologis sudah terpaku pada gadget setiap kali ada jeda.

Tentu, ini bukan ajakan untuk meromantisasi bengong sebagai kemalasan. Ada perbedaan jelas antara melamun yang produktif dan bengong yang sekedar “nge-blank”, pikiran kosong tanpa arah.

Newton tidak tiba-tiba menemukan teori gravitasi karena bersantai tanpa sebab di bawah pohon apel. Ia sudah bertahun-tahun bergelut dengan persoalan yang sama sebelum wawasan itu datang saat pikirannya tidak lagi dipaksa fokus. Sebelum kereta itu terlambat, Rowling pun sudah lama menulis dan membaca.

Melamun bukan pengganti kerja keras, melainkan rangkaian dari kerja keras itu sendiri. Melamun adalah ruang ketika otak diberi kesempatan mengartikulasikan semua bahan dan data untuk dirangkai menjadi “sesuatu”. Harga yang dibayar karena punahnya budaya melamun sangat mahal; brain rot, sikap impulsif, dan temperamen.

Melamun bukan lagi kemewahan yang harus dibeli. Ia mewah justru karena gratis. Kita tidak perlu mencari-cari waktu luang. Kita punya cukup banyak jeda dalam sehari, saat menunggu kereta, saat mengantre, saat pesawat delay. Pertanyaannya, apakah kita berani untuk membiarkan jeda itu tetap kosong.**